Skip to main content

Pandemi Corona di Bumi Latin Americana: Stabilitas Ekonomi-Politik Keruh yang Kian Mengeruh

Foto: NBCNews.com

“Made in China”, begitulah kata yang dapat kita sematkan pada virus yang satu ini, memang sedikit kasar jika penyematan kata made in China ini digunakan namun memang begitulah adanya. Virus ini dijuluki corona, namanya memang keren meskipun dampaknya tidak keren. Awal mulanya, virus ini disebut “Wuhan virus” karena memang outbreak terjadi pertama kali di Wuhan, China. Later, WHO mengumumkan official-name dari penyakit ini sebagai CoViD-19. “Co” berarti corona, “Vi” berarti virus, dan “D” berarti disease.

Virus yang menyebabkan penyakit ini adalah SARS-CoV-2, nama ini diberikan oleh International Committee on Taxonomy of Viruses.[1] Wabah ini mengingatkan kita pada pandemi yang terjadi pada 2003 di mana kala itu wabah SARS melanda dunia.


Berawal dari Wuhan, dan per detik ini (21 Maret 2020, pukul 20.00) berdasarkan data yang diperoleh dari WorldoMeter.info dan WHO, sebanyak 285,623 kasus CoVid-19 terjadi di seluruh dunia dengan jumlah deaths sebanyak 11,875 kasus dan recovered sebanyak 93,584 kasus.

Amerika Latin pada awalnya memang bebas-bebas saja dengan virus ini mengingat ruang dan waktu yang memisahkan. Namun, kebebasan yang biasa dianut oleh masyarakat Amerika Latin tiba-tiba menghilang begitu saja. Tepatnya pada 25 Februari 2020 ketika Menteri Kesehatan Brazil mengumumkan kasus pertama dari CoViD-19.

Pernyataan dari Menteri Kesehatan Brazil Luiz Henrique Mandettas ini dikutip dari MedScape.com, “It is a man from Sao Paulo who came back recently from a working trip to Italy, …, The first positive test was done in Hospital Israelita Albert Einstein on Tuesday.”[2] Amerika Latin yang tadinya corona-free, kini mulai terdampak CoVid-19 pula. Terpaparnya Brazil oleh pandemi global ini mengingatkan wabah Zika di Brazil pada 2016 lalu.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Global Health Security Index, tingkat kesiapsiagaan negara-negara di Amerika Latin dalam menghadapi wabah CoViD-19 menempati posisi least-prepared hingga more-prepared, posisi ini jauh di bawah tingkat kesiapsiagaan Amerika Serikat dan Kanada. Panama, Republik Dominika dan Guyana menempati peringkat least-prepared; Kolombia, Peru, Haiti, Bolivia, Paraguay dan Uruguay menempati peringkat less-prepared dan Meksiko, Brazil, Argentina, Chile serta Ekuador menempati peringkat more-prepared. (Data diperoleh dari Global Health Security Index).

Sao Paulo merupakan the most populated city di Amerika Latin dengan penduduk lebih dari 23 juta jiwa. Sao Paulo juga memiliki bandara internasional terbesar di Brazil, bandara tersebut setiap harinya memiliki 103 destinasi penerbangan di 30 negara dan 52 penerbangan domestik, menghubungkan bukan hanya kota-kota besar di Amerika Latin melainkan juga menghubungkan penerbangan langsung ke Amerika Utara, Eropa, Afrika dan Timur Tengah. Selain itu, terdapat pula jalur transportasi darat yang menghubungkan Brazil dengan negara-negara sekitar. Pelabuhan-pelabuhan di Brazil pula menjadi tujuan berbagai kapal kargo maupun wisatawan dari seluruh dunia.[3]

Francis Fukuyama di dalam paper-nya yang berjudul ‘The Imperative of State-Building’ mengemukakan konsep ‘Scope vs. Strength’[4]. ‘Scope’ berarti fungsi-fungsi negara dan ‘Strength’ adalah kapabilitas dan kapasitas negara dalam melaksanakan fungsi-fungsi negara. Fenomena coronavirus outbreak di Amerika Latin ini dapat kita analisis menggunakan metode Fukuyama tersebut. Ketika suatu negara dihadapkan pada isu kesehatan di mana dalam ‘scope’ negara harus bisa mencapai fungsinya di dalam ‘providing public health’ namun di sisi lain pada aspek ‘strength’ negara juga harus mampu menggunakan ‘institutional capacity’-nya dalam rangka mencapai hal tersebut.

Seiring meningkatnya perkembangan terhadap penularan virus ini ke seluruh dunia, kemerosotan ekonomi dunia dan terganggunya supply-chain, penurunan harga-harga komoditas, penutupan pariwisata dan turis asing ini setidaknya berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi di Amerika Latin. Dikutip dari IMFBlogs, “For the region, the recovery we were expecting a few months ago will not happen, and a 2020 with negative growth is not an unlikely scenario.”[5] Di kala ketidakstabilan ekonomi di Amerika Latin terjadi, hal ini diperparah dengan wabah yang melanda dan secara langsung berdampak pada aktivitas ekonomi di negara-negara Amerika Latin.

Ketika penurunan harga minyak dilakukan guna menguntungkan negara-negara importir minyak di kawasan, hal ini tentu akan berdampak pada investasi dan aktivitas ekonomi di negara-negara eksportir minyak. Selain itu, social distancing yang di satu sisi dapat menolong pencegahan penularan virus, di sisi lain akan berpengaruh langsung terhadap bidang lain seperti pariwisata dan pelayanan publik serta transportasi yang mana bidang-bidang tersebut sangatlah signifikan bagi perekonomian negara-negara di Amerika Latin.

Dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh outbreak ini pastilah bervariasi di tiap-tiap negara. Amerika Latin akan mengalami kondisi ekonomi keruh yang kian mengeruh. Penurunan harga-harga komoditas dan pengurangan volume ekspor terhadap China, Eropa dan Amerika Serikat adalah salah satu penyebabnya.

Penurunan volume perdagangan, foreign direct investment, pariwisata, ekspor-ekspor vital seperti kopi, gula, pisang dan lain-lain pasti akan terhambat karena permintaan global yang menurun diakibatkan lockdown policy yang dilakukan di negara-negara terdampak pandemi. Fear-factor yang melanda di seluruh kawasan pun menjadi salah satu faktor penyebab kemerosotan ekonomi yang terjadi.

Langkah-langkah politik yang harus diambil adalah dengan menggunakan skala prioritas, di mana prioritas negara-negara saat ini adalah ensuring its people health and safety, merawat yang terinfeksi, serta memperlambat penyebaran virus. Hal-hal di atas telah dilakukan di mayoritas negara terdampak.

Untuk memperbaiki economical damage yang ditimbulkan, IMF menyarankan negara-negara terdampak wabah beberapa hal seperti: (1) pemerintah harus melakukan subsidi dan pengampunan pajak guna menolong masyarakat; (2) lalu bank sentral harus meningkatkan pengawasan serta membuat contingency plans; dan (3) negara harus meminimalisir economic fallout yang disebabkan oleh CoViD-19 dan krisis kemanusiaan.[6]

"Bumi Amerika Latin memanglah surga bagi para pelancong asing di mana keindahan alam pegunungan hingga kelemahlembutan lautan dapat terasa hingga ke asa. Hal-hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para penguasa guna mengisi devisa negara dengan pariwisata. Ketika wabah ini tiba, sumber-sumber keuangan tersebut perlahan hilang ditelan penularan wabah yang mematikan. Seperti produk-produk “Made in China” lainnya yang tidak tahan lama, tentu saja virus ini juga tak akan bertahan lama. Semoga." (Alifsar, 2020)

Referensi
  1. Mary Hui. 2020. “Why won’t the WHO call the coronavirus by its name, SARS –CoV-2?”. Quartz.com
  2. Leoleli Schwartz. 2020. Brazil Confirms First Case of CoViD-19 in Latin America. MedScape.com
  3. Alfonso J. R. Morales, Viviana G., Juan P. E. Antezana, Claudio A. M., Lysien I. Z., Carlos F. P., Jose A. S., Hernan D. R. Enciso, Graciela J. B. Ramon, Eduardo S. Larriera, Alejandro R., Sergio C. 2020. COVID-19 in Latin America: The implications of the first confirmed case in Brazil. Travel Medicine and Infectious Disease. Elsevier Ltd.
  4. Francis Fukuyama. 2004. The Imperative of State-Building. Journal of Democracy, Vol. 15, Number 2.
  5. Alejandro Werner. 2020. COVID-19 Pandemic and Latin America and the Caribbean: Time for Strong Policy Actions. IMFBlog.

Comments

Popular Posts

Indonesian Canned Tuna as Indonesia’s Fishery Export Commodity to Japan

Classical realists assume that human nature is self-centered and egotistic. Realism in international relations clearly stated that national interests are the most important thing to pursue in order to maintain national survivability. In order to pursue their national interests, nations must maximize their power. Classical realists focus on nations as the primary actors, which are rational and driven by their self-interests. Unlike classical realists, structural realists (neorealists) recognized non-state actors.  Though international trade is not realists' main concern, it can be analyzed using the neoliberalism perspective. Which neorealists argue that international trade is a process of the liberalized economy as a process that creates a positive-sum game, meaning that one states’ win, can be other states’ win too, regardless of the sum of advantage. Indonesia is the largest tuna-exporting country in the world (as per 2020), Indonesia and Japan are bonded in various internation...

Gender and Sexuality: Same or Different?

Discussing gender and sexuality is subtly uncommon or even considered ‘taboo’ in some parts of the world. This phenomenon is caused by ancient social constructions of gender. Steans and Pettiford (2009) stated that these social constructions of genders have been identified also as sexual differences that have dynamically and gradually changed throughout history. The primordial beliefs of gender are various among world civilizations and cultures. (Steans & Pettiford, 2009: 323-324). Initially, the term ‘gender’ is used to dichotomize fundamental differences between men and women. (Puspitawati, 2013). Gender has to be distinguished from sexuality. (Fakih, 1996). The concept of gender is introduced by social scientists to examine and explain the differences of ‘natural/biological' and ‘social construction’ of mankind that have been consistently developed and socialized primordially. Sexuality by biological nature, defined male as creatures who have a penis and produce sperm; meanw...

A Social Construction, Deconstruction, and Reconstruction of the Primordial Nature of Indonesian Women

In a primordial and conventional Indonesian culture, an ‘ideal woman’ is depicted as a loving wife and a caring mother. A wife who always obeys her husband and always-caring for her family. This kind of ‘template’ or ‘blueprint’ has developed into a seemingly permanent standard and norms in social institutions, and it has been and will always be developed from time to time. Hence, this condition will affect how society ‘shapes’ women, especially how the men view women, and how women view themselves in which how they would put their ‘roles’ in the social process in society. Source: www.tirto.co.id As time goes by, this primordial nature of how society views women as ‘second-class’ citizens and how they depict women ‘only’ as a loving wife and a caring mother, should not be conserved anymore. The women’s emancipation and the feminist waves of movements have been consistently increasing women’s participation in society. Initially, the whole world and civilizations, particularly Indonesian...
Back to Top