Skip to main content

Separatisme di Xinjiang, Berkaca dari Gerakan Separatis di Nusantara

Memahami isu seperti ini memanglah harus dengan kepala dingin. Melakukan analisis kasus secara komprehensif dan tentunya menggunakan metode-metode ilmiah. Memandang dan memahami dari berbagai perspektif.
Di Indonesia misalnya, isu separatisme telah terjadi bahkan sejak masa Orde Lama. Sebutlah, PKI; PRRI/Permesta; DI/TII hingga GAM dan OPM. Banyak.

Gerakan-gerakan separatisme yang terjadi di Indonesia seringkali 'diboncengi' oleh kepentingan luar negeri dari negara-negara asing. Salah satu contoh nyata adalah merdekanya Timor Timur menjadi Timor Leste dari Indonesia, yang 'menggembor-gemborkan' siapa? Asing.

Nama Indonesia sempat tercemar akibat gerakan separatisme OPM di Papua. Kaca mata dunia melihat Indonesia sebagai 'monster' bagi Tanah Papua. Orang-orang Papua diberitakan tertindas, bahkan yang terparah adalah isu bahwa Indonesia adalah pelanggar HAM.

Berkaca pada isu separatisme di Indonesia, isu yang sedang hangat saat ini adalah Uyghur di Xinjiang. Pemerintah Tiongkok dianggap sebagai tiran yang menindas kaum muslim di Xinjiang. Media secara masif memberitakan keburukan Tiongkok sebagai 'penindas kaum beragama'.

Stigma 'komunis anti Tuhan' pun subur melebur ke darah daging masyarakat dunia. Terutama masyarakat Indonesia.

Menyoroti persoalan 'Tiongkok Penindas Muslim', kita seharusnya jangan langsung menyimpulkan bahwa 'Tiongkok Penindas Muslim' tanpa tahu fakta dan sejarah yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.

Orang-orang Uyghur memang memiliki latar belakang sejarah separatisme yang terjadi di Tiongkok. Guna membasmi gerakan 'separatisme' tersebut, Pemerintah Tiongkok melakukan 're-edukasi' bagi orang-orang Uyghur di Xinjiang. Tetapi dalam prosesnya, Tiongkok secara jelas berlaku diskriminatif terhadap Muslim Uyghur.

Lain halnya dengan Muslim Hui yang tak punya latar belakang sejarah separatisme, mereka tetap 'mesra' dengan pemerintah Tiongkok.

Yang salah adalah, kebanyakan masyarakat kita hanya menerima 'informasi' tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut. Lalu dengan asal-asalan menyimpulkan segala sesuatu.

Muslim Uyghur ini sedang 'dimainkan', mereka bagaikan 'pion' yang menunggu untuk digerakkan. Mereka menjadi korban dari kepentingan di atas kepentingan.

Bersimpati kepada Muslim Uyghur karena mendapatkan perlakuan diskriminatif dari Tiongkok itu hal yang wajar, Ukhuwah Islamiyah namanya. Namun menyebarkan informasi yang tidak benar adalah salah.

Masyarakat Indonesia dan dunia sama-sama mengecam Tiongkok, mengecap Tiongkok sebagai 'teroris' dan 'pelanggar HAM' tanpa mengetahui bahwa isu yang sedang diangkat adalah persoalan 'negara yang ingin membasmi separatisme di negaranya sendiri'.

Sama halnya ketika pemerintah Indonesia mati-matian membela tanah airnya dari berbagai gerakan separatisme yang mengancam keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Separatisme muncul dari ketidakpuasan terhadap pemerintahan, ditunggangi dan didukung oleh negara lain yang punya kepentingan. Para separatis layaknya bidak catur yang menunggu digerakkan. Salam damai." (Alifsar, 2019)

#PrayForUyghur

Ilustrasi:
Komik Strip Untuk Umum


Comments

Popular Posts

Indonesian Canned Tuna as Indonesia’s Fishery Export Commodity to Japan

Classical realists assume that human nature is self-centered and egotistic. Realism in international relations clearly stated that national interests are the most important thing to pursue in order to maintain national survivability. In order to pursue their national interests, nations must maximize their power. Classical realists focus on nations as the primary actors, which are rational and driven by their self-interests. Unlike classical realists, structural realists (neorealists) recognized non-state actors.  Though international trade is not realists' main concern, it can be analyzed using the neoliberalism perspective. Which neorealists argue that international trade is a process of the liberalized economy as a process that creates a positive-sum game, meaning that one states’ win, can be other states’ win too, regardless of the sum of advantage. Indonesia is the largest tuna-exporting country in the world (as per 2020), Indonesia and Japan are bonded in various internation...

Gender and Sexuality: Same or Different?

Discussing gender and sexuality is subtly uncommon or even considered ‘taboo’ in some parts of the world. This phenomenon is caused by ancient social constructions of gender. Steans and Pettiford (2009) stated that these social constructions of genders have been identified also as sexual differences that have dynamically and gradually changed throughout history. The primordial beliefs of gender are various among world civilizations and cultures. (Steans & Pettiford, 2009: 323-324). Initially, the term ‘gender’ is used to dichotomize fundamental differences between men and women. (Puspitawati, 2013). Gender has to be distinguished from sexuality. (Fakih, 1996). The concept of gender is introduced by social scientists to examine and explain the differences of ‘natural/biological' and ‘social construction’ of mankind that have been consistently developed and socialized primordially. Sexuality by biological nature, defined male as creatures who have a penis and produce sperm; meanw...

A Social Construction, Deconstruction, and Reconstruction of the Primordial Nature of Indonesian Women

In a primordial and conventional Indonesian culture, an ‘ideal woman’ is depicted as a loving wife and a caring mother. A wife who always obeys her husband and always-caring for her family. This kind of ‘template’ or ‘blueprint’ has developed into a seemingly permanent standard and norms in social institutions, and it has been and will always be developed from time to time. Hence, this condition will affect how society ‘shapes’ women, especially how the men view women, and how women view themselves in which how they would put their ‘roles’ in the social process in society. Source: www.tirto.co.id As time goes by, this primordial nature of how society views women as ‘second-class’ citizens and how they depict women ‘only’ as a loving wife and a caring mother, should not be conserved anymore. The women’s emancipation and the feminist waves of movements have been consistently increasing women’s participation in society. Initially, the whole world and civilizations, particularly Indonesian...
Back to Top